petakapasal.law.blog

Autor, @rogerantamapro

Jakarta Kebanjiran di Musim Kemarau Saat Langit Tak Lagi Patuh pada Kalender

PETAKAPASAL. Musim kemarau biasanya identik dengan panas, langit cerah, dan tanah yang mulai merekah. Tapi tahun ini, Jakarta punya cerita lain. Tiga hari berturut-turut, hujan mengguyur dengan deras, membuat sejumlah titik di Ibu Kota tergenang. Tak ayal, masyarakat pun bertanya-tanya kenapa bisa banjir di tengah kemarau?

Fenomena ini bukan sekadar kejutan kecil dari langit, tapi juga cermin dari dinamika cuaca yang semakin sulit ditebak.

Kemarau yang Lembap Anomali Bernama Banjir

Menurut keterangan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir kali ini bukanlah banjir biasa. Fenomena ini disebut sebagai anomali cuaca, di mana pola atmosfer tidak mengikuti pola musim seperti biasanya.

Alih-alih kering, langit Jakarta mendadak aktif membentuk awan hujan. Salah satu pemicunya adalah pusat tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia, tepatnya di Samudra Hindia. Tekanan ini mengundang angin dari berbagai arah bertemu di atas Pulau Jawa pertemuan yang oleh para ahli disebut konvergensi angin yang memicu pertumbuhan awan hujan cukup masif.

Bukan Hanya Awan, Tapi Juga Arah Angin dan Uap Air

Yang menarik, ternyata bukan hanya tekanan rendah yang berperan. Arah angin dari timur dan tenggara juga membawa kelembapan tinggi ke wilayah Jakarta. Kombinasi ini menciptakan atmosfer yang jenuh uap air, alias sangat siap untuk melahirkan hujan.

Tak cukup sampai di situ, faktor lokal juga ikut menyumbang. Panas matahari yang cukup terik pada siang hari menghangatkan permukaan tanah. Lalu ketika suhu mulai turun saat sore menjelang, awan-awan yang terbentuk sebelumnya melepaskan hujannya. Inilah mengapa hujan deras beberapa hari terakhir sering turun pada sore hingga malam hari.

Banjir di Tengah Ketidakpastian Iklim

Akibat hujan tak terduga ini, sejumlah wilayah di Jakarta kembali terendam. Genangan air menutup ruas jalan, membuat lalu lintas tersendat, dan bahkan masuk ke area permukiman. Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta telah mengerahkan petugas dan pompa untuk mempercepat surutnya air.

Meski banjir tak separah musim hujan besar, kejadian ini tetap menjadi sinyal bahwa iklim kini tak bisa lagi ditebak hanya dari kalender.

Waspada adalah Kunci

BMKG mengingatkan masyarakat bahwa meski kita berada di periode kemarau, potensi hujan deras masih bisa terjadi, terutama karena adanya dinamika atmosfer yang cepat berubah. Karena itu, memantau prakiraan cuaca, membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing, dan tidak membuang sampah sembarangan menjadi langkah-langkah sederhana yang berdampak besar.

Saat Langit Bicara Lewat Hujan

Jakarta sedang menunjukkan satu hal penting alam tak selalu berjalan sesuai prediksi manusia. Mungkin hujan di musim kemarau adalah pengingat bahwa perubahan iklim itu nyata, bahwa kota besar seperti Jakarta perlu lebih siap dalam segala musim, dan bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas musiman.

Langit memang tak bisa dikendalikan, tapi respon kita terhadapnya bisa ditentukan. Dan itulah yang kini paling dibutuhkan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai