petakapasal.law.blog

Autor, @rogerantamapro

Ketegangan Thailand-Kamboja Cermin Panasnya Dapur Asia Tenggara

PETAKAPASAL. Ketika sejarah, tanah, dan kebanggaan nasional bercampur dalam satu ruang diplomasi yang rapuh, konflik menjadi bara yang mudah menyala. Inilah yang terjadi antara Thailand dan Kamboja, dua negara tetangga di jantung Asia Tenggara, yang kini kembali bersitegang akibat sengketa perbatasan yang tak kunjung padam.

Awal Mula Ketegangan Warisan Sengketa yang Tak Tuntas

Wilayah sekitar Kuil Preah Vihear kembali menjadi panggung konflik. Meski Mahkamah Internasional telah memutuskan sejak 1962 bahwa kuil tersebut merupakan bagian dari Kamboja, perdebatan mengenai zona penyangga di sekitarnya terus bergulir. Dalam hitungan hari terakhir, pasukan dari kedua negara terlibat bentrok di wilayah tersebut. Dentuman senjata, tembakan artileri, dan laporan penggunaan drone memperburuk situasi.

Korban dan Dampak Ketika Rakyat Jadi Tumbal

Tak kurang dari 100.000 warga sipil dari kedua negara terpaksa meninggalkan rumah mereka. Di sisi Thailand, sekitar 58 ribu orang dievakuasi ke tempat aman, sedangkan di Kamboja sekitar 23 ribu orang ikut terdampak.

Tak hanya itu, infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, hingga SPBU dilaporkan rusak parah. Ledakan demi ledakan menjadi irama yang tak diinginkan oleh masyarakat sipil, yang sebenarnya hanya ingin hidup damai tanpa embusan aroma mesiu.

Tekanan Internasional dan Upaya Gencatan Senjata

Kondisi yang makin mencekam membuat dunia internasional tak tinggal diam. PBB segera menggelar rapat darurat. Amerika Serikat, China, Uni Eropa, hingga Jepang secara serempak menyerukan penghentian kekerasan.

Sementara itu, Malaysia sebagai Ketua ASEAN menawarkan proposal gencatan senjata. Kamboja merespons positif, namun Thailand justru menarik diri, memunculkan kekhawatiran bahwa konflik bisa berubah menjadi perang terbuka.

Pelajaran dari Indonesia-Malaysia Ketika Diplomasi Jadi Jalan Tengah

Konflik ini mengingatkan banyak pihak pada sengketa Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia. Meski sarat dengan emosi dan tekanan politik, kedua negara memilih jalan hukum lewat Mahkamah Internasional. Hasilnya? Sengketa terselesaikan tanpa peluru.

Ini menjadi pelajaran penting bahwa pendekatan damai, walau tak instan, lebih beradab dan jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Kini, ASEAN ditantang untuk mengambil posisi aktif, bukan hanya jadi penonton.

Refleksi untuk ASEAN dan Indonesia

Ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian:

  • Diplomasi ASEAN Harus Lebih Sigap
    Konflik ini menguji efektivitas mekanisme damai ASEAN. Jika tidak ingin kehilangan kredibilitas, organisasi kawasan ini harus lebih gesit dalam mengupayakan dialog dan penengahan.
  • Perluas Peran Indonesia di Kawasan
    Sebagai negara besar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki modal diplomatik yang kuat. Pengalaman menyelesaikan berbagai konflik domestik dan regional harus dijadikan landasan untuk memediasi konflik serupa.
  • Pentingnya Penyelesaian Tapal Batas Secara Proaktif
    Indonesia sendiri masih memiliki beberapa persoalan batas wilayah yang belum final, seperti dengan Malaysia di Ambalat. Konflik Thailand-Kamboja menjadi pengingat bahwa persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Menuju Kawasan Damai dan Bermartabat

Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan sekadar soal batas wilayah, tapi soal bagaimana negara-negara Asia Tenggara memandang masa depan mereka: apakah akan terus terjebak dalam lingkaran sejarah yang sama, atau berani melangkah ke depan dengan semangat kolaboratif.

Satu hal yang pasti, sejarah telah memberi pelajaran—bahwa perdamaian yang dicapai lewat diplomasi selalu lebih berharga daripada kemenangan yang dibeli dengan darah.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai