
PETAKAPASAL. Perayaan kemerdekaan Indonesia ke-80 pada tahun 2025 membawa semarak tersendiri di berbagai daerah. Jakarta, sebagai ibu kota, tentu menjadi pusat perhatian dengan berbagai kegiatan resmi maupun hiburan rakyat. Salah satu destinasi yang menjadi magnet wisatawan adalah Kota Tua Jakarta. Kawasan yang dikenal sebagai pusat sejarah ini kembali dipadati pengunjung pada Senin (18/8), meskipun cuaca pagi hingga siang sempat diguyur gerimis.
Gerimis Tak Menyurutkan Antusiasme
Sekitar pukul 10.40 WIB, suasana lapangan Fatahillah yang menjadi ikon Kota Tua sudah terlihat penuh. Ratusan pengunjung duduk santai, berkeliling, hingga berfoto di antara bangunan kolonial peninggalan Belanda. Rintik hujan yang turun pelan-pelan ternyata tak membuat wisatawan beranjak. Sebaliknya, banyak yang justru terlihat menikmati suasana syahdu itu dengan payung warna-warni atau jas hujan tipis yang memberi nuansa berbeda pada pengalaman liburan kali ini.
Bagi sebagian orang, gerimis dianggap gangguan. Namun di Kota Tua hari itu, hujan justru menjadi “hiasan” alami. Rintik yang membasahi jalanan batu berpadu dengan lampu-lampu dan warna gedung tua menghadirkan kesan dramatis, seakan menambahkan filter sinematik bagi siapa pun yang mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka.
Aktivitas Favorit, Dari Sepeda Ontel hingga Swafoto
Kota Tua memang selalu identik dengan suasana tempo dulu. Tak heran jika salah satu aktivitas favorit wisatawan adalah menyewa sepeda ontel yang dihias warna mencolok lengkap dengan topi khas Belanda. Sepeda-sepeda itu menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi keluarga yang datang bersama anak-anak.
Selain itu, spot foto di depan Museum Fatahillah, Museum Wayang, dan deretan bangunan berarsitektur kolonial lainnya tetap menjadi buruan. Meskipun cuaca tak sepenuhnya cerah, antrean untuk berswafoto tetap ramai. Banyak pengunjung yang menilai gerimis justru memberi kesan romantis pada hasil foto mereka.
Bagi yang enggan berkeliling, duduk santai di bawah rindangnya pepohonan sambil menikmati jajanan lokal juga jadi pilihan. Pedagang kaki lima terlihat tetap berjualan meski sesekali harus menutup dagangan ketika hujan agak deras.
Suara Wisatawan, Antara Liburan dan Edukasi
Salah satu pengunjung asal Bogor, Yola (36), mengungkapkan rasa senangnya bisa membawa keluarga ke Kota Tua pada momen spesial ini. Baginya, libur setelah perayaan HUT RI adalah waktu tepat untuk mengenalkan anak-anak pada sejarah Indonesia.
“Anak-anak bisa lihat langsung gedung-gedung tua yang sering mereka baca di buku. Jadi selain jalan-jalan, ada nilai edukasinya juga,” ungkapnya dengan wajah ceria. Menurutnya, hujan tidak menjadi masalah karena justru membuat suasana terasa lebih adem dibanding biasanya. Sambil menikmati seluruh destinasi dari Kota Tua di Jakarta, slot deposit qris bisa dijadikan sebagai sambilan. Laman online ini tersedia banyak sekali pilihan game dengan berbagai destinasi tema yang beragam.
Kisah Yola hanyalah satu dari sekian banyak cerita pengunjung. Beberapa datang dari luar kota, bahkan luar provinsi, untuk merasakan langsung atmosfer Kota Tua di hari libur nasional.
Makna Kota Tua di Hari Kemerdekaan
Mengunjungi Kota Tua pada momen kemerdekaan bukan hanya sekadar rekreasi. Ada pesan simbolis yang terasa, kawasan ini adalah saksi bisu perjalanan panjang bangsa. Gedung-gedung yang kini difungsikan sebagai museum, kafe, atau ruang publik pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial.
Dalam konteks HUT ke-80 RI, keberadaan Kota Tua menjadi pengingat bahwa bangsa ini telah melewati masa-masa sulit sebelum mencapai kemerdekaan. Melihat keramaian wisatawan di tempat bersejarah itu adalah bukti bahwa masyarakat tidak hanya merayakan kemerdekaan dengan upacara, tetapi juga dengan mengapresiasi warisan budaya yang masih berdiri kokoh.
Hujan Sebagai “Bumbu” Wisata
Menariknya, hujan justru menghadirkan sisi lain dari Kota Tua. Biasanya kawasan ini terasa panas dengan kerumunan padat di bawah terik matahari. Namun kali ini, gerimis membuat udara lebih sejuk, menambah kenyamanan bagi pengunjung.
Beberapa fotografer amatir bahkan menyebut hari itu sebagai “waktu emas” untuk memotret. Genangan air tipis di jalanan memantulkan cahaya bangunan tua, menciptakan refleksi indah yang jarang terlihat. Bagi para pengunjung, pengalaman ini menjadi cerita tambahan yang tak terlupakan.
Kota Tua, Tetap Menjadi Primadona Wisata
Hari libur nasional sering kali dimanfaatkan warga untuk berkunjung ke mal atau tempat hiburan modern. Namun ramainya Kota Tua di liburan HUT RI ke-80 menunjukkan bahwa destinasi bersejarah tetap memiliki daya tarik kuat. Bukan hanya wisatawan lokal, tetapi juga turis mancanegara yang ingin merasakan langsung atmosfer “Batavia tempo dulu.”
Dengan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan mulai dari belajar sejarah di museum, mencicipi kuliner khas, hingga sekadar berfoto Kota Tua menawarkan pengalaman yang lengkap. Kombinasi antara edukasi, hiburan, dan nuansa heritage membuat kawasan ini selalu relevan untuk dikunjungi, tak peduli generasi berganti.
Penutup
Kehadiran ribuan pengunjung di Kota Tua Jakarta pada libur HUT ke-80 RI memperlihatkan bahwa semangat masyarakat untuk merayakan kemerdekaan begitu besar. Gerimis yang turun sepanjang hari bukanlah penghalang, justru menjadi elemen yang memperkaya pengalaman wisata.
Kota Tua, dengan segala keanggunan bangunan tuanya, kembali membuktikan diri sebagai ruang publik yang bukan hanya menyenangkan tetapi juga sarat makna. Dari tawa anak-anak yang mencoba sepeda ontel, obrolan keluarga yang berteduh sambil menikmati jajanan, hingga momen foto di bawah hujan, semuanya menyatu menjadi potret indah perayaan kemerdekaan ala rakyat.
Kawasan ini seakan berkata, meski zaman terus berubah, sejarah tetap hidup. Dan selama masyarakat mau menjaga, Kota Tua akan selalu menjadi panggung yang memadukan kenangan masa lalu dengan keceriaan masa kini.