
PETAKAPASAL. Pada Minggu pagi, 7 September 2025, militer Israel melaporkan sebuah insiden baru yang kembali mengingatkan publik pada rapuhnya keamanan di kawasan perbatasan. Dua proyektil diluncurkan dari wilayah tengah Jalur Gaza menuju arah daratan Israel. Kejadian ini sontak memicu bunyi sirene peringatan di Netivot, sebuah kota dengan populasi sekitar 50 ribu jiwa, yang terletak sekitar 10 kilometer dari Gaza.
Walaupun ancaman ini berpotensi menimbulkan kepanikan, militer Israel menyampaikan bahwa satu proyektil berhasil dicegat sistem pertahanan udara mereka. Sementara satu proyektil lainnya jatuh di area terbuka, sehingga tidak menimbulkan korban maupun kerusakan berarti. Kendati demikian, fakta bahwa proyektil kembali mencapai wilayah tersebut tetap menimbulkan rasa waswas di kalangan warga.
Netivot, Kota yang Ikut Menjadi Sorotan
Netivot bukanlah kota besar seperti Tel Aviv atau Yerusalem. Namun, posisinya yang cukup dekat dengan perbatasan Gaza membuat kota ini memiliki peran penting dalam setiap perkembangan situasi keamanan. Sirene yang berbunyi pada Minggu pagi itu bukanlah yang pertama bagi warga Netivot, tetapi setiap kali peringatan berbunyi, suasana cemas tak bisa dihindari.
Bagi penduduk lokal, bunyi sirene berarti mereka hanya memiliki beberapa detik untuk mencari tempat perlindungan. Meskipun proyektil kali ini tidak mengenai permukiman, dampak psikologis terhadap masyarakat tetap terasa nyata. Anak-anak, orang tua, dan keluarga di kota kecil itu harus menyesuaikan rutinitas harian mereka dengan ancaman yang sewaktu-waktu bisa datang dari langit.
Respons Militer Israel
Militer Israel, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa peluncuran proyektil tersebut berasal dari bagian tengah Jalur Gaza. Keberhasilan sistem pertahanan udara dalam mencegat salah satu proyektil dianggap sebagai bukti kesiapan mereka menghadapi ancaman mendadak. Namun, fakta bahwa satu proyektil lain sempat lolos dan mendarat di area terbuka juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pertahanan ketika ancaman datang dalam jumlah lebih banyak.
Insiden ini menambah daftar panjang konfrontasi yang terjadi sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023, ketika kelompok Hamas melancarkan serangan besar ke wilayah Israel. Sejak saat itu, siklus serangan dan balasan antara Israel dan kelompok bersenjata di Gaza terus berlanjut, dengan dampak yang paling besar dirasakan oleh warga sipil di kedua belah pihak.
Operasi Israel di Kota Gaza
Menariknya, peluncuran proyektil ini terjadi bertepatan dengan intensifikasi operasi militer Israel di sekitar Kota Gaza. Kota tersebut merupakan pusat kepadatan penduduk dan juga memiliki nilai strategis tinggi. Menurut militer Israel, operasi ini bertujuan untuk merebut kendali atas Kota Gaza serta menekan keberadaan kelompok Hamas.
Selain itu, salah satu tujuan utama operasi adalah pembebasan sandera yang masih ditahan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Isu sandera menjadi perhatian besar, tidak hanya bagi pemerintah Israel, tetapi juga keluarga-keluarga korban yang hingga kini masih menanti kepastian. Situasi inilah yang membuat setiap perkembangan di Gaza tidak pernah lepas dari sorotan publik internasional.
Dampak bagi Warga Sipil
Meskipun proyektil kali ini tidak menimbulkan kerusakan atau korban jiwa, ketegangan yang ditimbulkan cukup terasa. Setiap kali sirene berbunyi, kehidupan sehari-hari masyarakat harus terhenti. Anak-anak sekolah, pekerja, hingga pelaku usaha kecil di Netivot harus segera mencari perlindungan, meskipun dalam hitungan menit situasi kembali tenang.
Hal yang sama juga dirasakan oleh warga di Jalur Gaza. Ketika Israel melancarkan operasi militernya, warga sipil di sana seringkali harus menghadapi keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, mulai dari listrik, air bersih, hingga layanan kesehatan. Situasi inilah yang membuat konflik Israel-Gaza semakin kompleks: setiap tindakan militer memiliki konsekuensi langsung terhadap populasi sipil yang sebenarnya tidak terlibat dalam pertarungan politik maupun militer.
Konflik yang Belum Menemukan Titik Akhir
Insiden peluncuran proyektil ke arah Israel ini hanyalah satu dari sekian banyak episode dalam rangkaian konflik panjang yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Meski berbagai upaya perdamaian pernah diinisiasi oleh komunitas internasional, hingga kini belum ada kesepakatan yang benar-benar mampu menghentikan siklus kekerasan.
Bagi Israel, setiap serangan dari Gaza menjadi alasan untuk memperkuat operasi militernya. Bagi kelompok bersenjata di Gaza, perlawanan dianggap sebagai simbol perjuangan. Sementara itu, masyarakat sipil baik di Gaza maupun Israel terus hidup dalam ketidakpastian.
Kesimpulan
Peluncuran dua proyektil dari Jalur Gaza menuju Israel pada 7 September 2025 menjadi pengingat bahwa ketegangan di kawasan ini masih jauh dari kata usai. Meski tidak ada korban jiwa atau kerusakan material, sirene yang berbunyi di Netivot sudah cukup untuk menggambarkan rapuhnya rasa aman yang dirasakan masyarakat.
Israel kini semakin intensif melaksanakan operasi di Kota Gaza dengan tujuan strategis: menekan Hamas sekaligus membebaskan sandera. Namun, selama belum ada solusi politik yang nyata, setiap peristiwa seperti ini berpotensi mengulang lingkaran kekerasan yang sama.
Konflik Israel dan Gaza bukan hanya soal militer atau politik semata, melainkan juga tentang kehidupan ribuan keluarga yang setiap hari harus beradaptasi dengan ketidakpastian. Insiden proyektil ini sekali lagi menegaskan bahwa perdamaian masih menjadi cita-cita yang jauh, meski sangat didambakan.