petakapasal.law.blog

Autor, @rogerantamapro

Jejak Inspirasi dari Indonesia, Gen Z Nepal dan Gelombang Protes Baru

PETAKAPASAL. Fenomena demonstrasi tidak lagi sekadar peristiwa lokal yang berhenti di batas negara. Di era globalisasi informasi, suara rakyat bisa menggema lintas benua, menembus sekat politik maupun budaya. Itulah yang terjadi antara Indonesia dan Nepal dalam beberapa bulan terakhir.

Demonstrasi besar yang sempat terjadi di Indonesia ternyata ikut memberi inspirasi bagi generasi muda Nepal, khususnya Gen Z. Mereka menjadikan pengalaman protes di tanah air sebagai cermin untuk menyuarakan keresahan atas kebijakan pemerintah. Peristiwa ini kemudian menarik perhatian banyak pihak karena memperlihatkan bagaimana ide dan gerakan sosial dapat saling memengaruhi di kawasan Asia.

Awal Gelombang, Kebijakan yang Memicu Amarah

Di Nepal, pemicu utama kemarahan publik datang dari keputusan pemerintah yang melarang penggunaan media sosial. Bagi sebagian kalangan, terutama generasi muda, media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan sarana komunikasi, ruang belajar, dan wadah berekspresi. Ketika ruang itu tiba-tiba ditutup, rasa terbatasi pun menjelma menjadi gelombang protes besar-besaran.

Meskipun pada akhirnya larangan tersebut dicabut, keputusan pemerintah sudah terlanjur memantik api perlawanan. Demonstrasi pun pecah dan dengan cepat berubah menjadi aksi yang keras. Gedung parlemen menjadi sasaran, rumah pejabat tinggi terbakar, bahkan kantor kementerian komunikasi dan bank sentral ikut dirusak. Situasi ini memperlihatkan bagaimana kebijakan yang dianggap represif bisa menimbulkan efek domino yang jauh lebih besar.

Cermin dari Indonesia

Banyak pengamat melihat adanya kesamaan pola antara unjuk rasa di Nepal dan gelombang demonstrasi yang sebelumnya terjadi di Indonesia. Di Indonesia, aksi massa dalam jumlah besar pernah mewarnai jalanan dengan isu-isu seputar kebebasan, keadilan sosial, hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Hal serupa tampak di Nepal, dengan perbedaan konteks tetapi memiliki pola mobilisasi yang nyaris sama. Mahasiswa dan kelompok muda berada di garda depan, memanfaatkan media sosial sebagai sarana koordinasi dan penyebaran pesan. Narasi yang dibangun juga serupa: menolak pembatasan kebebasan dan mempertanyakan legitimasi kebijakan pemerintah.

Sanjeev Sanyal, penasihat ekonomi pemerintah India, bahkan menyoroti adanya pola yang berulang. Ia menilai ada semacam “toolkit” yang digunakan di berbagai negara Asia Selatan. Menurutnya, mahasiswa kerap dijadikan barisan terdepan, sementara di belakangnya ada pola strategi yang terlihat tidak sepenuhnya organik. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah gerakan seperti ini benar-benar murni suara rakyat, atau ada pengaruh eksternal yang ikut mendorong eskalasi?

Dampak yang Terjadi di Nepal

Demonstrasi yang berlangsung di Nepal tidak berjalan tanpa korban. Laporan menyebutkan setidaknya 19 orang kehilangan nyawa dalam kerusuhan tersebut. Selain itu, berbagai fasilitas umum dan bangunan politik rusak parah akibat amukan massa.

Aksi ini juga mengundang perhatian dunia internasional. Banyak yang menyoroti bagaimana Gen Z Nepal berani mengambil langkah radikal, meski risikonya tinggi. Keberanian mereka dianggap sebagai simbol generasi baru yang ingin menyuarakan aspirasi dengan cara yang lantang, walaupun konsekuensinya tidak ringan.

Di sisi lain, pemerintah Nepal berada pada posisi sulit. Di satu pihak mereka ingin mengendalikan arus informasi, di pihak lain mereka tidak bisa mengabaikan tuntutan masyarakat yang semakin vokal. Pencabutan larangan media sosial menjadi tanda bahwa tekanan publik memang memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan negara.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Fenomena ini memberikan beberapa pelajaran penting, baik untuk Nepal, Indonesia, maupun negara lain yang kerap menghadapi dinamika serupa:

  1. Kekuatan Generasi Muda
    Gen Z adalah generasi digital. Mereka tumbuh bersama internet dan media sosial, sehingga pembatasan akses akan selalu memicu resistensi. Di Nepal, mereka membuktikan diri sebagai kekuatan sosial yang tak bisa diabaikan.
  2. Media Sosial Sebagai Pedang Bermata Dua
    Di satu sisi, media sosial memudahkan koordinasi, mempercepat penyebaran informasi, dan memperluas solidaritas. Namun di sisi lain, ia juga bisa memperuncing konflik karena berita palsu atau provokasi mudah menyebar tanpa kendali.
  3. Inspirasi Lintas Negara
    Demonstrasi di Indonesia menjadi contoh nyata bagaimana sebuah gerakan bisa menembus batas geografis. Nepal mengambil inspirasi dari cara mobilisasi, semangat, hingga pola perlawanan. Ini menunjukkan betapa globalisasi ide kini tak terbendung.
  4. Pentingnya Ruang Dialog
    Pemerintah perlu belajar bahwa menutup ruang komunikasi justru bisa memperbesar konflik. Dialog terbuka, transparansi, dan keterlibatan publik menjadi solusi jangka panjang yang lebih efektif ketimbang represi.

Antara Ekspresi dan Kekerasan

Satu hal yang patut dicatat, kebebasan berekspresi memang hak setiap warga, tetapi ketika berubah menjadi kekerasan dan perusakan, pesan utama protes bisa teredam. Inilah dilema yang kerap muncul dalam setiap demonstrasi besar.

Gen Z Nepal ingin menunjukkan bahwa mereka menolak dibungkam. Namun, dengan adanya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, diskursus publik pun terpecah, apakah cara yang digunakan sudah tepat, atau justru merugikan perjuangan mereka sendiri?

Gaung yang Tak Terbatas Batas Negara

Peristiwa Nepal dan Indonesia memperlihatkan satu hal penting, gerakan sosial kini tidak lagi berdiri sendiri. Mereka bisa saling terhubung, saling memengaruhi, bahkan saling memberi inspirasi.

Bagi generasi muda, ini adalah panggilan bahwa suara mereka memiliki kekuatan besar. Bagi pemerintah, ini menjadi pengingat bahwa kebijakan yang menyentuh ruang publik harus dibuat dengan bijak. Pada akhirnya, keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan ketertiban umum adalah tantangan yang harus dihadapi bersama.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai