
PETAKAPASAL. Perkembangan teknologi dalam dua dekade terakhir benar-benar mengubah cara masyarakat hidup. Internet, yang dulu hanya bisa diakses melalui komputer dengan jaringan kabel, kini bisa dinikmati dalam genggaman lewat ponsel pintar. Akses yang semakin mudah membuat hampir setiap aspek kehidupan berpindah ke ruang digital mulai dari bekerja, belajar, belanja, hingga bersosialisasi.
Namun, laporan terbaru justru menempatkan Indonesia dalam sorotan dunia. Alih-alih hanya dikenal sebagai salah satu pasar digital terbesar, Indonesia kini menyandang “predikat” yang cukup mengejutkan: negara dengan tingkat penggunaan ponsel dan internet paling tinggi di dunia, bahkan sampai disebut warganya sudah kecanduan parah.
Fakta di Balik Data
Laporan State of Mobile 2024 yang dirilis oleh Data.ai menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 6 jam lebih setiap hari hanya untuk beraktivitas lewat ponsel. Angka ini mengalahkan negara-negara lain seperti Thailand, Brasil, dan Argentina yang sebelumnya dikenal dengan tingkat penggunaan gawai yang tinggi.
Selaras dengan itu, hasil survei dari Digital 2025 Global Overview Report memperlihatkan bahwa 98,7% masyarakat Indonesia yang berusia di atas 16 tahun mengakses internet menggunakan ponsel. Angka ini melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang berada di kisaran 98,5%.
Jika ditotal, rata-rata waktu masyarakat Indonesia berada di dunia maya bisa mencapai lebih dari 7 jam per hari. Sebagai perbandingan, rata-rata global hanya sekitar 6 jam 38 menit. Data ini menunjukkan bahwa warga Indonesia tidak hanya sering menggunakan internet, tetapi juga jauh melampaui standar rata-rata dunia.
Mengapa Bisa Begitu Tinggi?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa penggunaan ponsel dan internet di Indonesia begitu masif:
- Infrastruktur yang semakin baik
Beberapa tahun terakhir, jaringan 4G sudah merata hingga ke daerah, bahkan layanan 5G mulai diperkenalkan di kota-kota besar. Paket data juga relatif terjangkau, membuat akses internet tidak lagi menjadi barang mewah. - Demografi muda
Indonesia memiliki populasi dengan mayoritas usia produktif. Generasi muda yang tumbuh di era digital lebih cepat beradaptasi dan mengandalkan ponsel untuk berbagai kebutuhan, baik hiburan, komunikasi, maupun pekerjaan. - Dominasi aplikasi hiburan dan sosial media
Kehidupan masyarakat, terutama anak muda, kini banyak terhubung lewat aplikasi seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Ditambah dengan tren belanja online dan game mobile, semakin memperkuat posisi ponsel sebagai perangkat utama. - Kebiasaan budaya digital
Interaksi sosial kini tidak hanya berlangsung tatap muka. Chat, video call, hingga konten kreatif menjadi cara baru berkomunikasi, dan hampir semuanya dilakukan melalui ponsel.
Dampak Positif, Peluang dari Aktivitas Digital
Meskipun ada stigma “kecanduan”, tingginya intensitas penggunaan ponsel dan internet juga membawa dampak positif. Misalnya, pertumbuhan ekonomi digital yang semakin pesat. E-commerce, fintech, hingga industri kreatif berbasis media sosial berkembang berkat masyarakat yang aktif online.
Selain itu, akses internet juga membuka peluang pendidikan. Banyak orang bisa belajar mandiri lewat kursus daring, video tutorial, hingga webinar. Bahkan, ponsel menjadi alat penting bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus bergantung pada toko fisik.
Risiko yang Tidak Bisa Diabaikan
Namun, penggunaan internet yang berlebihan tetap memiliki konsekuensi. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
- Kesehatan fisik: menatap layar terlalu lama bisa menyebabkan gangguan tidur, mata lelah, sakit kepala, bahkan masalah postur tubuh.
- Kesehatan mental: terlalu banyak waktu di media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan rasa tidak puas karena perbandingan sosial.
- Produktivitas menurun: notifikasi tanpa henti dan kebiasaan berpindah aplikasi membuat fokus bekerja atau belajar terganggu.
- Interaksi sosial nyata berkurang: meskipun komunikasi online meningkat, hubungan tatap muka yang lebih bermakna bisa berkurang jika orang terlalu larut dalam dunia digital.
Perlukah Disebut “Kecanduan”?
Istilah “kecanduan” sering kali menimbulkan konotasi negatif. Namun, dalam konteks penggunaan ponsel, istilah ini lebih tepat dimaknai sebagai ketergantungan yang sangat tinggi. Artinya, ponsel bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan sudah menjadi bagian utama dari gaya hidup.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah waktu, tetapi juga kualitas penggunaan. Apakah 6 jam online itu dihabiskan untuk hal produktif seperti bekerja dan belajar? Atau lebih banyak terserap pada aktivitas yang kurang bermanfaat? Pertanyaan ini yang seharusnya jadi fokus diskusi.
Mengelola Kebiasaan Digital
Daripada memandang data ini semata-mata sebagai masalah, masyarakat Indonesia bisa menjadikannya sebagai alarm untuk lebih bijak. Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan:
- Atur batas waktu penggunaan ponsel, terutama di malam hari agar kualitas tidur tidak terganggu.
- Ciptakan zona bebas gawai, misalnya saat makan bersama keluarga atau ketika sedang berkendara.
- Alihkan sebagian waktu online ke aktivitas produktif, seperti belajar bahasa baru, membaca buku digital, atau mengelola bisnis kecil.
- Gunakan fitur digital wellbeing yang kini tersedia di hampir semua ponsel untuk memantau kebiasaan penggunaan.
- Seimbangkan dengan aktivitas offline, seperti berolahraga, berkebun, atau sekadar berjalan santai tanpa gawai.
Penutup
Posisi Indonesia sebagai negara dengan penggunaan ponsel dan internet tertinggi di dunia memang memunculkan dua sisi koin. Di satu sisi, ini menegaskan bahwa masyarakat kita sangat adaptif terhadap teknologi, bahkan mampu menggerakkan ekonomi digital. Di sisi lain, ada tantangan besar dalam menjaga kesehatan, produktivitas, dan kualitas hidup agar tidak tergerus oleh layar.
Predikat “nomor satu” dalam hal durasi online sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai kebanggaan atau masalah, melainkan pengingat bahwa teknologi harus tetap dikelola dengan bijak. Pada akhirnya, ponsel dan internet hanyalah alat. Bagaimana cara kita memanfaatkannya akan menentukan apakah ia menjadi peluang atau justru jebakan.