
PETAKAPASAL. Di tengah kecamuk konflik yang telah menelan banyak korban dan menciptakan krisis kemanusiaan akut, sebuah secercah harapan muncul dari tanah yang selama ini dipenuhi deru senjata dan duka nestapa. Pada 9 Oktober 2025, dunia dikejutkan dengan kabar bahwa dua pihak yang selama ini berada di garis berseberangan Hamas dan Israel akhirnya menyepakati sebuah gencatan senjata tahap pertama.
Kabar ini disambut dengan hati-hati namun penuh harap oleh berbagai negara, terutama dari kawasan Timur Tengah. Arab Saudi, sebagai salah satu kekuatan regional, langsung merespons kesepakatan ini dengan pernyataan resmi yang menekankan pentingnya menghentikan penderitaan warga sipil dan melangkah ke arah perdamaian yang lebih permanen.
Gencatan Senjata, Sebuah Awal Baru?
Kesepakatan gencatan senjata ini bukan hanya berhenti pada pernyataan politik, tetapi mencakup beberapa butir penting yang menjadi dasar langkah-langkah berikutnya. Di antaranya adalah:
- Penghentian operasi militer dari kedua pihak
- Penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Gaza
- Pembukaan akses jalur kemanusiaan untuk bantuan medis, makanan, dan logistik
- Pertukaran tahanan dan sandera yang saat ini ditahan oleh masing-masing pihak
Meski ini baru tahap pertama, banyak pihak melihatnya sebagai titik terang di ujung terowongan panjang yang selama ini dipenuhi kekerasan dan siklus balas dendam tanpa henti.
Tanggapan Arab Saudi, Jalan Menuju Perdamaian Adil
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyampaikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan tersebut. Dalam pernyataan resminya, Riyadh menekankan bahwa langkah ini harus dijadikan batu loncatan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang semakin memperparah penderitaan rakyat Palestina.
Lebih jauh lagi, Arab Saudi menyerukan agar gencatan senjata ini tidak hanya bersifat sementara. Mereka berharap perjanjian ini bisa membuka jalan menuju solusi yang lebih komprehensif, khususnya penyelesaian berdasarkan prinsip dua negara (two-state solution) sebuah pendekatan yang selama ini didorong oleh berbagai pihak internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Arab Saudi juga mendesak agar Israel benar-benar menarik seluruh pasukannya dari Gaza dan mengizinkan distribusi bantuan tanpa hambatan.
Yordania Angkat Suara, Saatnya Peperangan Berakhir
Negara tetangga Palestina lainnya, Yordania, juga memberikan respons cepat terhadap kabar ini. Pemerintah Yordania menyambut baik kesepakatan gencatan senjata dan menyebutnya sebagai peluang emas untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung terlalu lama.
Yordania menyuarakan harapan agar kesepakatan ini bukan hanya berhenti pada penghentian konflik, tetapi juga menjadi jembatan untuk:
- Mengembalikan kepercayaan antara pihak-pihak yang berseteru
- Mengupayakan pembebasan semua tahanan
- Memastikan bantuan kemanusiaan menjangkau seluruh warga sipil, terutama di Gaza Utara dan Selatan yang menjadi zona konflik terparah
AS dan Negara Mediator, Peran Kunci di Balik Layar
Di balik tercapainya kesepakatan ini, ada sejumlah negara dan tokoh yang memainkan peran kunci sebagai mediator. Amerika Serikat, melalui kepemimpinan Presiden Donald Trump, mengklaim bahwa kesepakatan ini merupakan hasil dari inisiatif perdamaian yang telah mereka rancang selama beberapa bulan terakhir.
Trump menyebut bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani fase pertama dari rencana perdamaian yang diusulkan oleh AS. Ia juga mengapresiasi dukungan dari negara-negara seperti Qatar, Mesir, dan Turki yang terlibat aktif dalam proses negosiasi.
“Kesepakatan ini adalah hasil dari diplomasi yang sabar dan intens. Kami berterima kasih kepada semua mitra regional yang membantu proses ini,” ungkap Trump dalam konferensi pers di Washington.
Pandangan Hamas, Apresiasi dengan Kewaspadaan
Dari pihak Hamas, kesepakatan ini disambut dengan apresiasi terhadap para mediator, terutama Qatar dan Turki. Mereka mengakui peran signifikan negara-negara tersebut dalam membuka jalur komunikasi dengan Israel dan pihak internasional lainnya.
Namun, Hamas juga memberikan catatan penting: mereka menuntut komitmen yang jelas dan tegas dari Israel agar benar-benar melaksanakan isi kesepakatan, termasuk penarikan pasukan secara menyeluruh dari wilayah Gaza dan pembebasan tahanan Palestina yang selama ini ditahan tanpa proses pengadilan.
Juru bicara Hamas menambahkan bahwa ini bukan soal siapa menang atau kalah, tetapi tentang menghentikan penderitaan rakyat sipil yang telah terlalu lama menjadi korban dari konflik yang tidak berkesudahan.
Ujian Sebenarnya Implementasi di Lapangan
Sejarah mencatat bahwa kesepakatan gencatan senjata di kawasan ini kerap berumur pendek. Banyak yang kandas di tengah jalan akibat pelanggaran kecil yang memicu eskalasi kembali. Oleh karena itu, keberhasilan kesepakatan kali ini sangat bergantung pada:
- Kejujuran dan transparansi dari kedua belah pihak
- Dukungan komunitas internasional dalam memantau pelaksanaan
- Upaya berkelanjutan untuk membangun dialog politik yang terbuka dan inklusif
Harapan yang Harus Dijaga
Dalam pusaran konflik yang telah menewaskan ribuan jiwa dan membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal, sebuah kesepakatan gencatan senjata mungkin terdengar kecil. Namun, bagi mereka yang hidup di bawah bayang-bayang perang, ini adalah napas pertama menuju kehidupan yang lebih damai.
Langkah ini masih jauh dari kata akhir, tetapi dunia termasuk negara-negara besar dan kawasan Arab kini memiliki tanggung jawab moral dan diplomatik untuk menjaga agar harapan ini tidak kembali pupus. Gaza dan Israel telah membuka pintu, kini saatnya semua pihak ikut menjaga agar jalan menuju perdamaian tetap terbuka lebar.