petakapasal.law.blog

Autor, @rogerantamapro

Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Di Tengah Ketegangan, Masih Diawasi Tentara Israel

PETAKAPASAL. Di tengah gejolak konflik yang berkecamuk di Jalur Gaza, sebuah rumah sakit yang menjadi simbol kepedulian dan solidaritas bangsa Indonesia tetap berdiri dengan segala tantangannya. Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara menjadi sorotan lantaran keberadaannya yang hingga kini masih diawasi ketat oleh tentara Israel, meski gencatan senjata telah diumumkan.

Menyusuri Jejak Rumah Sakit Indonesia di Gaza

Rumah Sakit Indonesia bukan sekadar fasilitas medis biasa di Gaza. Ia merupakan hasil karya kemanusiaan dari organisasi MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang berkomitmen memberikan pertolongan dan pelayanan kesehatan kepada warga Gaza yang terdampak konflik panjang antara Israel dan Hamas. Sejak berdiri, rumah sakit ini menjadi tempat harapan bagi ribuan pasien yang tak lagi memiliki akses mudah ke fasilitas kesehatan lain karena situasi perang.

Namun, keberadaan rumah sakit ini tidak lepas dari risiko tinggi akibat lokasi strategisnya yang berada di Gaza Utara area yang kerap menjadi titik panas dalam pertikaian. Akibatnya, rumah sakit pun seringkali menjadi sorotan dan bahkan sasaran dari tekanan militer.

Gencatan Senjata dan Realitas di Lapangan

Pada 10 Oktober 2025, gencatan senjata antara pihak yang bertikai diumumkan. Sebuah berita yang diharapkan membawa ketenangan dan memungkinkan akses bantuan kemanusiaan lebih lancar ke Gaza. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan dinamika berbeda.

Relawan MER-C yang bertugas di Gaza melaporkan bahwa meski gencatan senjata sudah berlaku, pasukan militer Israel masih terlihat berjaga-jaga di sekitar kompleks rumah sakit. Tank dan personel militer masih tampak berpatroli di belakang rumah sakit, terutama di Wisma Joserizal Jurnalis, yang selama ini menjadi pusat koordinasi para relawan. Wisma tersebut juga hanya bisa diakses dari sisi selatan karena daerah lainnya masih dipenuhi kendaraan tempur.

Gambaran Kondisi Wisma Joserizal Jurnalis

Laporan relawan menyebutkan bahwa kondisi Wisma Joserizal Jurnalis cukup memprihatinkan. Dinding-dinding bangunan mengalami kerusakan parah dengan lubang besar di beberapa bagian. Perabotan berserakan, dan suasana di dalam bangunan tampak berantakan akibat aktivitas militer yang berlangsung selama beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mengilustrasikan betapa beratnya tekanan yang dialami para pekerja medis dan relawan di lokasi tersebut.

Seruan Hukum Humaniter Internasional

Dalam setiap konflik bersenjata, hukum humaniter internasional mengatur perlindungan khusus terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis. Rumah sakit harus menjadi zona aman, jauh dari jangkauan aktivitas militer dan serangan. Namun, di Gaza, prinsip ini kerap sulit diterapkan. Rumah Sakit Indonesia, yang mestinya menjadi tempat penyembuhan, justru menghadapi ancaman berulang.

Sejak meletusnya ketegangan antara Israel dan Hamas pada Oktober 2023, RS Indonesia sudah beberapa kali menjadi sasaran atau terjebak dalam insiden kekerasan. Pada November 2023, misalnya, bangsal operasi diserang dan peralatan penting rusak. Serangan udara di Oktober 2024 juga menghantam rumah sakit dan sekitarnya. Bahkan pada Mei 2025, militer Israel mengepung rumah sakit, memaksa penghentian seluruh layanan medis dan evakuasi staf serta pasien.

Dampak Konflik pada Pelayanan Kesehatan

Kondisi yang terus berubah dan ancaman militer menyebabkan RS Indonesia harus mengosongkan bangunannya pada awal Juni 2025. Penghentian aktivitas medis ini jelas membawa dampak besar bagi masyarakat Gaza, yang sangat bergantung pada pelayanan rumah sakit untuk perawatan luka perang dan penyakit lainnya.

Situasi ini juga menimbulkan tantangan serius bagi para tenaga medis yang bertugas. Mereka harus menghadapi risiko keselamatan pribadi dan keterbatasan fasilitas, sementara kebutuhan pasien terus meningkat. MER-C dan organisasi kemanusiaan lainnya terus berusaha memastikan suplai medis, perlindungan staf, dan kelangsungan pelayanan meskipun kondisi sangat sulit.

Harapan dari Gencatan Senjata

Meski kondisi masih penuh tekanan, gencatan senjata membuka peluang bagi bantuan kemanusiaan untuk mengalir lebih lancar. Sejumlah warga yang sempat mengungsi kini mulai kembali ke rumah mereka, dan aliran logistik mulai membaik. Namun, pengawasan ketat oleh militer Israel menunjukkan bahwa keamanan dan kebebasan bergerak bagi staf rumah sakit masih menjadi tantangan utama.

Gencatan senjata yang berlaku menjadi langkah awal penting, tetapi pemulihan penuh untuk RS Indonesia dan akses pelayanan kesehatan di Gaza tentu membutuhkan waktu dan upaya kolaborasi berbagai pihak.

Perlunya Perlindungan Internasional Lebih Tegas

Kasus RS Indonesia di Gaza adalah gambaran nyata dari kompleksitas perlindungan fasilitas kesehatan di wilayah konflik. Upaya untuk memastikan bahwa rumah sakit, klinik, dan tenaga medis mendapatkan perlindungan maksimal perlu diperkuat oleh komunitas internasional, khususnya organisasi PBB dan lembaga kemanusiaan.

Selain tekanan militer, penting pula dilakukan diplomasi dan advokasi agar hukum humaniter internasional ditegakkan dengan sungguh-sungguh. Tanpa perlindungan yang memadai, nyawa pasien dan tenaga medis akan selalu terancam, dan pelayanan kesehatan di daerah konflik tak akan pernah stabil.

Perjuangan di Tengah Ketegangan

Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah simbol harapan dan kepedulian. Di balik gedung-gedung yang terluka akibat perang, ada semangat tak kenal lelah dari para relawan dan tenaga medis yang terus berjuang menyelamatkan nyawa. Meski pengawasan ketat militer Israel masih membayangi, dan ancaman konflik tetap ada, mereka terus bertahan.

Pengakuan dunia atas pentingnya perlindungan fasilitas kesehatan harus segera diikuti oleh tindakan nyata agar rumah sakit-rumah sakit seperti ini dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan aman. Sebab, pada akhirnya, kemanusiaan harus berdiri di atas segala perbedaan dan perselisihan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai