petakapasal.law.blog

Autor, @rogerantamapro

Blog

  • Perampokan di Jepang, Tiga WNI Dibekuk Polisi KBRI Turun Tangan

    PETAKAPASAL. Di tengah ketertiban dan ketegasan hukum Jepang, sebuah insiden kriminal kembali menjadi sorotan, khususnya bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. Kali ini, tiga warga negara Indonesia (WNI) harus berhadapan dengan aparat hukum Negeri Sakura karena diduga terlibat dalam aksi perampokan rumah tinggal.

    Peristiwa ini bukan hanya mencoreng nama baik, tapi juga menjadi pengingat keras akan pentingnya menjunjung hukum di manapun kita berada.

    Rumah Jadi Sasaran, Tiga Tersangka Diringkus

    Kejadian bermula dari laporan warga Jepang di kawasan Ibaraki yang mengaku rumahnya telah disatroni perampok. Polisi yang menerima laporan langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan. Hasilnya, tak butuh waktu lama, tiga pria berkewarganegaraan Indonesia berhasil diamankan dan kini tengah menjalani proses pemeriksaan intensif.

    Meski belum diungkap identitas lengkapnya, ketiga WNI tersebut diketahui berusia antara 20 hingga 30 tahun. Pihak kepolisian menduga aksi ini telah dirancang sebelumnya dan bukan dilakukan secara spontan.

    Bukan Aksi Acak, Polisi Curiga Ini Aksi Terorganisir

    Pola tindakan para pelaku yang terpantau melalui kamera pengawas dan bukti lainnya menunjukkan bahwa perampokan ini memiliki perencanaan matang. Polisi Jepang pun tengah menyelidiki lebih jauh apakah ketiga WNI ini bagian dari jaringan yang lebih besar, atau justru bertindak sendiri namun terlatih?

    Ini menambah catatan panjang kasus kejahatan lintas negara yang melibatkan WNI, dan tentu menimbulkan keprihatinan tersendiri di kalangan diaspora Indonesia di Jepang.

    KBRI Tokyo Pantau Ketat dan Siapkan Pendampingan

    Menanggapi kabar tersebut, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo tidak tinggal diam. Dalam pernyataannya, mereka memastikan akan memantau proses hukum yang berjalan dan siap memberikan pendampingan hukum bagi para WNI yang ditangkap.

    Namun, KBRI juga menggarisbawahi bahwa segala bentuk kejahatan tetap harus diproses sesuai hukum yang berlaku di Jepang. Pendampingan diberikan dalam konteks perlindungan hak dasar sebagai warga negara, bukan untuk membenarkan tindakan kriminal.

    Citra Bangsa Dipertaruhkan

    Insiden ini menjadi pengingat penting bagi setiap WNI yang tinggal atau bepergian ke luar negeri nama baik Indonesia berada di pundak setiap warganya. Satu tindakan buruk bisa mencoreng reputasi banyak orang. Oleh karena itu, penting bagi seluruh diaspora untuk menjunjung tinggi hukum dan menjaga perilaku selama berada di negara lain.

  • Tragis di Blitar Wanita Muda Ditemukan Tak Bernyawa, Diduga Tewas di Tangan Kekasihnya

    PETAKAPASAL. Pagi yang tenang di Kecamatan Srengat, Blitar, mendadak berubah menjadi mencekam saat warga menemukan sesosok perempuan muda tergeletak tak bernyawa di pinggir jalan, Senin (8/7). Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar cepat dan mengguncang publik. Yang lebih mengejutkan lagi, korban diduga tewas bukan karena kecelakaan, melainkan dibunuh oleh orang terdekatnya sendiri.

    Korban Dikenal Sebagai Sosok Ceria

    Korban diketahui berinisial IY (26), warga asal Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Dalam kesehariannya, IY dikenal sebagai pribadi yang ceria dan ramah. Kepergiannya yang tragis meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat yang mengenalnya.

    Saat ditemukan, tubuh IY tergeletak di sebuah lahan kosong di tepi jalan. Kondisinya masih mengenakan pakaian lengkap, namun terdapat tanda-tanda kekerasan fisik. Di sekitarnya, polisi juga menemukan sejumlah barang pribadi milik korban.

    Polisi Bergerak Cepat, Pacar Jadi Terduga Pelaku

    Kepolisian Blitar Kota dengan sigap melakukan olah TKP dan pemeriksaan forensik. Dari hasil penyelidikan awal, ditemukan indikasi kuat bahwa IY meninggal karena tindakan kekerasan, bukan sebab alami.

    Yang lebih mengagetkan, pria berinisial D, yang diduga sebagai kekasih korban, diamankan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan. D disebut-sebut sebagai orang terakhir yang bersama korban sebelum ditemukan tewas.

    Petunjuk Awal dari Hilangnya IY

    Menurut informasi keluarga, korban sempat berpamitan pada malam sebelumnya dan pergi bersama seseorang. Namun hingga esok pagi, ia tak juga kembali. Keluarga mulai resah dan mencoba mencari keberadaan IY hingga akhirnya menerima kabar memilukan tersebut.

    Kapolres Blitar Kota, AKBP Danang Setiyo, mengungkapkan bahwa proses penyelidikan masih berjalan. Dugaan awal mengarah pada konflik personal yang menjadi pemicu tindakan kekerasan. Namun motif pasti masih didalami lewat pemeriksaan lanjutan dan keterangan saksi.

    Kekerasan Tak Selalu Datang dari Orang Asing

    Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Kekerasan, terutama dalam hubungan asmara atau pertemanan dekat, sering kali luput dari perhatian publik. Ia tumbuh diam-diam mmelalui cemburu berlebihan, kontrol emosional, hingga akhirnya memuncak dalam kekerasan fisik.

    Pihak kepolisian pun mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melaporkan tanda-tanda kekerasan sekecil apa pun. Terlebih bagi korban yang kerap merasa takut untuk bersuara, penting bagi lingkungan terdekat untuk ikut peka dan peduli.

    Ketika Cinta Salah Jalan

    Kasus tragis IY bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah pengingat nyata bahwa relasi yang tidak sehat bisa berujung fatal. Di balik senyuman dan kata-kata manis, bisa tersembunyi sisi gelap yang merusak.

    Semoga kasus ini diusut tuntas dan keadilan berpihak pada korban. Yang lebih penting, semoga masyarakat semakin waspada dan belajar mengenali tanda-tanda awal dari hubungan yang membahayakan.

  • Jakarta Kebanjiran di Musim Kemarau Saat Langit Tak Lagi Patuh pada Kalender

    PETAKAPASAL. Musim kemarau biasanya identik dengan panas, langit cerah, dan tanah yang mulai merekah. Tapi tahun ini, Jakarta punya cerita lain. Tiga hari berturut-turut, hujan mengguyur dengan deras, membuat sejumlah titik di Ibu Kota tergenang. Tak ayal, masyarakat pun bertanya-tanya kenapa bisa banjir di tengah kemarau?

    Fenomena ini bukan sekadar kejutan kecil dari langit, tapi juga cermin dari dinamika cuaca yang semakin sulit ditebak.

    Kemarau yang Lembap Anomali Bernama Banjir

    Menurut keterangan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir kali ini bukanlah banjir biasa. Fenomena ini disebut sebagai anomali cuaca, di mana pola atmosfer tidak mengikuti pola musim seperti biasanya.

    Alih-alih kering, langit Jakarta mendadak aktif membentuk awan hujan. Salah satu pemicunya adalah pusat tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia, tepatnya di Samudra Hindia. Tekanan ini mengundang angin dari berbagai arah bertemu di atas Pulau Jawa pertemuan yang oleh para ahli disebut konvergensi angin yang memicu pertumbuhan awan hujan cukup masif.

    Bukan Hanya Awan, Tapi Juga Arah Angin dan Uap Air

    Yang menarik, ternyata bukan hanya tekanan rendah yang berperan. Arah angin dari timur dan tenggara juga membawa kelembapan tinggi ke wilayah Jakarta. Kombinasi ini menciptakan atmosfer yang jenuh uap air, alias sangat siap untuk melahirkan hujan.

    Tak cukup sampai di situ, faktor lokal juga ikut menyumbang. Panas matahari yang cukup terik pada siang hari menghangatkan permukaan tanah. Lalu ketika suhu mulai turun saat sore menjelang, awan-awan yang terbentuk sebelumnya melepaskan hujannya. Inilah mengapa hujan deras beberapa hari terakhir sering turun pada sore hingga malam hari.

    Banjir di Tengah Ketidakpastian Iklim

    Akibat hujan tak terduga ini, sejumlah wilayah di Jakarta kembali terendam. Genangan air menutup ruas jalan, membuat lalu lintas tersendat, dan bahkan masuk ke area permukiman. Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta telah mengerahkan petugas dan pompa untuk mempercepat surutnya air.

    Meski banjir tak separah musim hujan besar, kejadian ini tetap menjadi sinyal bahwa iklim kini tak bisa lagi ditebak hanya dari kalender.

    Waspada adalah Kunci

    BMKG mengingatkan masyarakat bahwa meski kita berada di periode kemarau, potensi hujan deras masih bisa terjadi, terutama karena adanya dinamika atmosfer yang cepat berubah. Karena itu, memantau prakiraan cuaca, membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing, dan tidak membuang sampah sembarangan menjadi langkah-langkah sederhana yang berdampak besar.

    Saat Langit Bicara Lewat Hujan

    Jakarta sedang menunjukkan satu hal penting alam tak selalu berjalan sesuai prediksi manusia. Mungkin hujan di musim kemarau adalah pengingat bahwa perubahan iklim itu nyata, bahwa kota besar seperti Jakarta perlu lebih siap dalam segala musim, dan bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas musiman.

    Langit memang tak bisa dikendalikan, tapi respon kita terhadapnya bisa ditentukan. Dan itulah yang kini paling dibutuhkan.

  • Enos Tipagau Tewas Ditembak Polisi Jejak Kelam Sang Anggota TPNPB di Papua

    PETAKAPASAL. Kabar terbaru dari Papua Tengah kembali mengguncang. Seorang figur yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutan bagi warga di kawasan Intan Jaya hingga Paniai, Enos Tipagau, dikabarkan tewas dalam operasi aparat kepolisian. Ia adalah anggota kelompok bersenjata yang tergabung dalam Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) organisasi yang kerap disebut berada di balik serangkaian serangan bersenjata di wilayah Papua.

    Enos dilumpuhkan oleh aparat dalam operasi penegakan hukum yang digelar di Distrik Bibida, Kabupaten Paniai, pada 5 Juli 2025. Polisi menyebut bahwa dalam peristiwa itu, ia melakukan perlawanan bersenjata sebelum akhirnya ditembak mati.

    Rekam Jejak yang Mencemaskan

    Nama Enos Tipagau tak asing dalam laporan intelijen dan pemberitaan seputar konflik Papua. Ia disebut sebagai aktor kunci di balik sejumlah aksi penembakan dan penyerangan brutal yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

    Beberapa kasus yang dikaitkan dengan dirinya antara lain:

    • Penembakan terhadap Briptu Anumerta Usdar di Distrik Homeyo, Intan Jaya, tahun 2021.
    • Pembunuhan pendeta Yeremia Zanambani, sebuah kasus yang menuai perhatian nasional dan menjadi sorotan banyak pihak.
    • Aksi intimidasi terhadap warga sipil, termasuk pembakaran rumah, penyanderaan, dan ancaman bersenjata di wilayah pedalaman Papua.

    Pihak keamanan menduga Enos tidak hanya berperan sebagai eksekutor, tetapi juga sebagai koordinator lapangan bagi sejumlah unit kecil TPNPB di Intan Jaya. Ia dikenal licin, sering berpindah lokasi, dan menguasai medan hutan Papua dengan baik.

    Operasi di Paniai Titik Akhir Sang Buronan

    Menurut informasi dari kepolisian, keberadaan Enos berhasil terdeteksi dalam sebuah patroli gabungan di Distrik Bibida. Saat operasi berlangsung, ia disebut mencoba melakukan perlawanan menggunakan senjata rakitan, yang kemudian dibalas dengan tembakan oleh aparat.

    Dari lokasi kejadian, polisi menyita senjata api rakitan, sejumlah amunisi, dokumen militer, serta barang bukti lainnya yang memperkuat dugaan bahwa Enos merupakan anggota aktif kelompok bersenjata.

    Kematian Enos disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan negara dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua, terutama di daerah rawan konflik.

    Ketegangan yang Belum Usai

    Meski satu tokoh berhasil dilumpuhkan, dinamika konflik di Papua belum menunjukkan tanda-tanda mereda. TPNPB dan kelompok sejenisnya masih aktif di beberapa wilayah terpencil. Pemerintah dan aparat keamanan pun terus menegaskan komitmen mereka untuk mengedepankan pendekatan hukum, sambil tetap membuka ruang dialog damai dalam koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  • Mengaku Polisi demi Motor, Pria Ini Tipu Pasangan Muda dengan Modus COD di Jakbar

    PETAKAPASAL. Di balik transaksi jual beli motor bekas, siapa sangka bisa tersembunyi tipu daya yang licik? Inilah yang dialami sepasang kekasih di Jakarta Barat. Mereka tak hanya kehilangan motor, tetapi juga menjadi korban kelicikan seorang pria yang nekat menyamar sebagai polisi demi menipu.

    Pria berinisial MA (28) ini menjalankan aksinya dengan menyaru sebagai aparat penegak hukum. Lewat modus COD (Cash on Delivery), ia memperdaya dua orang yang hendak menjual motornya secara langsung. Lokasi transaksinya berada di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, dan di sanalah semua dimulai.

    Janji COD Berujung Motor Dibawa Kabur

    Awalnya, korban yang merupakan pasangan muda, memasang iklan penjualan motor mereka secara online. MA, yang berpura-pura menjadi pembeli serius, menghubungi mereka dan menyepakati sistem pembayaran tunai di tempat alias COD.

    Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Sesampainya di lokasi yang dijanjikan, MA tampil bak anggota polisi. Dengan percaya diri dan penuh tipu muslihat, ia mengatakan bahwa motor yang ditawarkan harus diperiksa terlebih dahulu katanya sebagai bagian dari prosedur resmi.

    Tanpa curiga, korban menyerahkan motor tersebut. Tapi setelah motor dibawa untuk “diperiksa”, pelaku justru menghilang tanpa kabar. Motorpun raib, begitu pula harapan korban untuk menyelesaikan transaksi.

    Pelaku Tertangkap, Motor Kembali

    Tak tinggal diam, korban segera melaporkan kejadian ini ke Polsek Kalideres. Menurut Kapolsek Kompol Hari Agung Julianto, tim segera menelusuri identitas pelaku berdasarkan keterangan korban.

    Tak butuh waktu lama, pelaku akhirnya diciduk di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Polisi juga berhasil menyita motor hasil kejahatan yang dibawa kabur. “Pelaku sudah kami amankan. Motor milik korban juga telah kami temukan kembali,” ujar Kompol Hari kepada media, Kamis (4/7/2025).

    Bukan Kali Pertama

    Hasil penyelidikan mengungkap bahwa MA bukan pemain baru dalam dunia tipu-menipu. Ia tercatat pernah melakukan aksi serupa sebelumnya juga dengan dalih sebagai polisi gadungan dan modus COD motor. Kini, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Ia dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan.

    Waspadai Penipuan Berkedok COD

    Kepolisian mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap orang yang mengaku aparat, apalagi saat transaksi jual beli. Penting untuk selalu memastikan identitas pembeli, dan bila perlu, lakukan transaksi di tempat aman atau dengan pendampingan pihak berwajib.

  • Rp11,8 Triliun Disita dari Wilmar Group Langkah Kejagung yang Mengukir Sejarah

    PETAKAPASAL. Kejaksaan Agung Republik Indonesia baru saja mencetak sejarah. Lewat kerja tim Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), negara berhasil menyita dana senilai Rp11,8 triliun dari lima anak perusahaan Wilmar Group sebuah langkah hukum yang diklaim sebagai penyitaan terbesar sepanjang sejarah penegakan hukum di Indonesia.

    Sebuah Panggung Besar Uang Triliunan di Halaman Gedung Bundar

    Tak sekadar angka di laporan keuangan, uang senilai triliunan rupiah itu ditunjukkan langsung kepada publik dalam konferensi pers di Gedung Bundar, Jakarta. Tumpukan uang tunai miliaran rupiah dipajang seperti saksi bisu dari megaskandal korupsi ekspor crude palm oil (CPO) periode 2021–2022. Sisanya, yang disita dalam bentuk non-tunai, ditempatkan dalam rekening khusus di Bank Mandiri atas nama Kejagung.

    Langkah ini tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga memperkuat citra Kejaksaan Agung sebagai institusi yang tak segan menghadapi kekuatan korporasi besar.

    Siapa Saja yang Terlibat?

    Penyitaan ini berasal dari lima perusahaan yang berada di bawah naungan Wilmar Group, yakni:

    • PT Multimas Nabati Asahan
    • PT Multinabati Sulawesi
    • PT Sinar Alam Permai
    • PT Wilmar Bioenergi Indonesia
    • PT Wilmar Nabati Indonesia

    Kelima entitas ini menjadi terdakwa korporat dalam kasus dugaan korupsi ekspor minyak sawit mentah. Meski sempat dibebaskan dalam sidang tingkat pertama, Kejagung tidak menyerah begitu saja. Mereka mengajukan kasasi dan melanjutkan proses hukum sambil menyita dana yang menjadi potensi kerugian negara.

    Bukan Sekadar Angka, Tapi Simbol Keadilan

    Menurut Jampidsus Sutikno, jumlah Rp11,8 triliun bukan hasil perkiraan semata. Nilai itu merujuk pada hasil audit resmi dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta kajian akademis dari Universitas Gadjah Mada. Ini menandakan bahwa langkah hukum Kejaksaan didasarkan pada data dan analisis hukum yang kuat.

    Gelombang Dukungan Mengalir

    Langkah Kejagung ini langsung mendapat sambutan positif dari berbagai pihak:

    • PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) menilai penyitaan tersebut sebagai bukti komitmen penegakan hukum tanpa pandang bulu.
    • Anggota DPR dari beberapa fraksi memuji keberanian Kejaksaan dalam menghadapi perusahaan besar.
    • Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menyebut penyitaan ini sebagai tonggak penting dalam penguatan tata kelola ekspor nasional.

    Publik pun turut menyuarakan harapan agar langkah seperti ini menjadi standar baru dalam penanganan kasus korupsi kelas kakap.

    Menanti Langkah Berikutnya

    Saat ini, dana Rp11,8 triliun tersebut dititipkan pada rekening khusus dan menjadi bagian dari berkas kasasi yang diajukan ke Mahkamah Agung. Jika pengadilan mengabulkan kasasi, maka dana tersebut akan resmi masuk ke kas negara.

    Tak berhenti pada Wilmar, Kejagung juga mengisyaratkan akan menindaklanjuti proses hukum terhadap korporasi lain dalam kasus yang sama, seperti Permata Hijau Group dan Musim Mas. Artinya, gelombang pemberantasan korupsi di sektor ekspor CPO masih jauh dari kata selesai.

    Sinyal Kuat dari Negara

    Penyitaan ini bukan sekadar proses hukum. Ini adalah pesan tegas dari negara tidak ada perusahaan terlalu besar untuk disentuh hukum. Di tengah ketidakpercayaan publik terhadap penegakan hukum, langkah Kejaksaan Agung ini ibarat cahaya baru yang menunjukkan bahwa keadilan, sekali waktu, bisa berpihak pada rakyat.

  • Luka dalam Diam Dugaan Pencabulan oleh Guru Ngaji di Tebet, Polisi Buka Pintu Laporan Baru

    PETAKAPASAL. Dibalik dinding sebuah rumah pengajian dikawasan Tebet, Jakarta Selatan, terkuak sebuah kisah kelam yang mencederai kepercayaan dan nilai luhur pendidikan agama. Seorang guru ngaji berinisial AF, yang seharusnya menjadi teladan dan penjaga moral, justru kini berhadapan dengan hukum karena diduga mencabuli sepuluh santri laki-laki yang masih dibawah umur.

    Awal Mula Terbongkar Dua Santri Melawan Sunyi

    Cerita ini bermula dari keberanian dua anak, berinisial CNS (10) dan SM (12), yang mengungkapkan kepada orang tua mereka bahwa telah terjadi tindakan tidak pantas selama mereka mengikuti pengajian. Kejadian itu disebut-sebut telah berlangsung sejak tahun 2021, namun baru terungkap pada 18 Juni 2025. Keterangan yang mereka berikan menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk membongkar dugaan kejahatan seksual yang selama ini tersembunyi.

    Modus AF Manipulasi Berbungkus Agama

    Dalam pemeriksaan awal, terungkap bahwa AF menggunakan kedok “pelajaran tentang hadas” sebagai alasan menyentuh korban secara tidak semestinya. Bahkan, ada dugaan bahwa pelaku kerap mengiming-imingi anak-anak tersebut dengan sejumlah uang berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000 dan juga mengancam akan melakukan kekerasan fisik bila mereka menceritakan hal tersebut kepada siapa pun.

    Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk ponsel pelaku, papan tulis, dan hasil visum korban, yang kini menjadi dasar kuat dalam proses hukum.

    Proses Pendalaman Dugaan Jumlah Korban Bisa Bertambah

    Menurut AKP Citra Ayu, Kanit PPA Polres Metro Jakarta Selatan, saat ini penyidik tengah mendalami kemungkinan adanya korban lain di luar sepuluh santri yang telah melapor. Mengingat pelaku sudah mengajar cukup lama dan memiliki akses ke banyak anak, polisi tidak menutup kemungkinan akan muncul laporan-laporan baru.

    Sebagai bentuk keseriusan, pihak kepolisian telah membuka saluran khusus pelaporan yang bisa diakses masyarakat melalui nomor 0813-8519-5468, dengan jaminan bahwa identitas pelapor dan korban akan dirahasiakan sepenuhnya.

    Pendampingan untuk Korban Dukungan Tak Hanya Hukum

    Saat ini, para korban tidak hanya mendapat perlindungan secara hukum, tetapi juga pendampingan psikologis guna memulihkan trauma yang mereka alami. Unit PPA Polres Jakarta Selatan bekerja sama dengan lembaga pendamping anak untuk memastikan pemulihan mental berjalan optimal.

    Menjaga Asa di Tengah Luka

    Kisah ini menjadi peringatan serius bagi kita semua bahwa predator bisa berselubung di balik identitas terhormat. Orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan aparat penegak hukum harus saling bahu-membahu memastikan lingkungan anak-anak kita bebas dari ancaman predator seksual. Yang paling penting berani bicara bukanlah aib, tapi awal dari pemulihan dan keadilan.

  • Luka Lama Berujung Duka Dendam 10 Tahun Berakhir dengan Pembunuhan di Serang

    PETAKAPASAL. Suasana malam yang tenang di Kampung Binuang Rawa, Serang, pecah oleh aksi brutal yang menewaskan seorang warga bernama Misri (39). Pria itu ditikam hingga tewas oleh tiga pelaku yang diduga dipicu oleh dendam lama yang belum usai.

    Pembunuhan Terencana Dari Percakapan Santai ke Serangan Maut

    Peristiwa tragis ini terjadi pada 19 Mei 2025. Malam itu, Misri tengah berbincang santai bersama dua rekannya di tepi jalan. Tanpa peringatan, tiga pria yang diketahui bernama Jaya Rahmat alias Joy, Samun (22), dan Kamsir (40) datang menghampiri mereka. Mereka tidak datang untuk berbincang, melainkan membawa pisau, golok, dan kapak.

    Tanpa banyak bicara, mereka langsung menyerang Misri dengan senjata tajam. Warga yang menyaksikan sempat panik, namun nyawa Misri tak terselamatkan. Ia tewas di lokasi kejadian akibat luka parah yang dideritanya.

    Pelarian Singkat yang Terbongkar

    Usai kejadian, ketiga pelaku langsung melarikan diri dengan sepeda motor. Namun, pelarian mereka tak berlangsung lama. Tim gabungan dari Polres Serang akhirnya berhasil membekuk Jaya dan Samun di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara pada 27 Juni. Sedangkan Kamsir, yang mencoba melakukan perlawanan, akhirnya ditangkap setelah tindakan tegas dan terukur dari petugas.

    Motif Balas Dendam Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh

    Menurut keterangan Kapolres Serang, AKBP Condro Sasongko, pembunuhan ini didasari oleh dendam pribadi yang dipendam selama satu dekade. Tersangka Jaya Rahmat ternyata menyimpan kemarahan mendalam karena pernah dianiaya oleh Misri pada tahun 2015. Luka lama itu tak pernah sembuh dan kini, berujung pada aksi balas dendam berdarah yang merenggut nyawa.

    Proses Hukum Berjalan, Harapan Akan Keadilan

    Ketiga pelaku kini telah diamankan dan tengah menjalani proses hukum atas tuduhan pembunuhan berencana. Kasus ini menjadi pengingat bahwa dendam yang dibiarkan mengendap tanpa penyelesaian bisa meledak sewaktu-waktu dan menimbulkan kerugian besar, bukan hanya bagi korban, tetapi juga pelaku dan keluarganya.

    Dendam Jadi Bom Waktu

    Apa yang terjadi di Serang menjadi refleksi pahit tentang bahaya menyimpan dendam dalam jangka panjang. Konflik masa lalu, jika tidak diredam atau diselesaikan dengan bijak, bisa berubah menjadi tragedi yang tak termaafkan. Tindakan para pelaku tak hanya merenggut satu nyawa, tapi juga menghancurkan hidup mereka sendiri.

    Semoga proses hukum dapat berjalan adil dan menjadi pelajaran penting bahwa kekerasan bukanlah jawaban dari luka yang belum sembuh.

  • Dari Penjaga Menjadi Pelaku Sekuriti Bank yang Bobol ATM Demi Cinta

    PETAKAPASAL. Di balik seragam sekuriti yang seharusnya menjadi simbol kepercayaan, seorang pria muda di Sulawesi Selatan justru mencederai tanggung jawabnya. AAS (27), petugas keamanan sebuah bank di Kabupaten Wajo, ditangkap karena membobol mesin ATM tempat ia bekerja. Uang hasil kejahatan tersebut tak hanya dibawa kabur, tapi juga dibelanjakan untuk sang kekasih.

    Rencana Terencana Bermula dari Kunci ATM

    Aksi AAS bukan insiden spontan. Ia terlebih dulu mencuri kunci ATM saat proses opname sedang berlangsung momen dimana sistem mesin tengah diperiksa dan biasanya lebih rentan. Setelah proses pengecekan selesai, ia kembali membuka tiga mesin ATM di lokasi berbeda Kecamatan Sabbangparu, Pammana, dan kantor keuangan didekat Lapangan Merdeka, lalu menggondol kaset berisi uang tunai lebih dari Rp 400 juta.

    Pelarian Romantis ke Manado

    Dengan uang curian di tangan, AAS tidak langsung sembunyi. Sebaliknya, ia memilih untuk melarikan diri ke Manado bersama sang kekasih. Di kota tersebut, ia menikmati kehidupan mewah menginap di hotel berbintang, membeli dua unit iPhone 16, serta membelikan pacarnya hadiah senilai belasan juta rupiah. Sebagian uang pun digunakan untuk berbagai keperluan pribadi.

    Namun, pelarian mereka tak berlangsung lama. Tim kepolisian dari Polres Wajo yang bekerja sama dengan Resmob Polresta Manado berhasil meringkus pasangan ini saat mereka hendak berpindah hotel.

    Uang dan Barang Bukti Tak Sempat Habis

    Saat ditangkap, AAS masih membawa uang tunai sekitar Rp 397 juta dalam tas ranselnya. Selain itu, dua unit iPhone dan sejumlah barang lainnya seperti kunci ATM, obeng, serta pemotong kertas turut diamankan sebagai bukti. Pelaku pun langsung dibawa ke kantor polisi untuk proses hukum lebih lanjut.

    Refleksi Kepercayaan yang Disalahgunakan

    Kasus ini menjadi peringatan nyata tentang pentingnya pengawasan internal dalam lembaga keuangan. Betapa pun sistem keamanan dikembangkan, jika pelaku berasal dari orang dalam, maka potensi penyalahgunaan tetap ada.

    Kisah AAS memperlihatkan bahwa ketika godaan materi dan perasaan cinta tak dibarengi dengan tanggung jawab moral, hasilnya bisa menghancurkan masa depan seseorang. Kini, ia harus menghadapi proses hukum dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

    Kejahatan menjadi Kesempatan

    Kejahatan kerap bermula dari kesempatan, dan kesempatan itu muncul saat pengawasan melemah. Peristiwa ini bukan hanya tentang pembobolan ATM, tetapi juga pelajaran pahit tentang bagaimana kepercayaan bisa disalahgunakan dan bagaimana cinta, jika tidak bijak disikapi, bisa berujung pada kehancuran.

  • Tragedi di Sulteng Kepala KUA Tewas Ditebas, Pelaku Langsung Diciduk

    PETAKAPASAL. Sore kelabu menyelimuti Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Selasa (25/6/2025). Seorang pejabat publik, Mohamad Fuad, yang menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Tanambulava dan Gumbasa, meregang nyawa usai menjadi korban penyerangan brutal.

    Pelaku, seorang pria berinisial IS (27), diduga melakukan aksi kekerasan bersenjata tajam yang menyebabkan korban tewas di tempat. Insiden tragis ini terjadi di lokasi pencucian mobil milik warga, dimana Fuad berada saat itu.

    Serangan Mendadak dengan Senjata Tajam

    Menurut keterangan Kasi Humas Polres Sigi, Iptu Nuim Hayat, pelaku awalnya terlihat oleh warga dalam keadaan mencurigakan. Tanpa banyak peringatan, IS langsung mengayunkan parang ke arah korban, yang saat itu tengah mencuci mobil.

    Tidak hanya berhenti di situ, pelaku kemudian kembali ke rumahnya untuk mengambil senjata lain, yakni celurit dan pisau dapur, lalu kembali ke lokasi. Saat beberapa warga mencoba menghentikan amukannya, pelaku justru ikut melukai dua orang lainnya yang berniat menolong.

    Korban luka tersebut adalah Dakri dan Muhtazam, yang kini dirawat intensif di RSUD Torabelo akibat luka serius di beberapa bagian tubuh.

    Pelaku Langsung Diamankan Polisi

    Aparat kepolisian yang bergerak cepat tiba di lokasi tak lama setelah kejadian. Pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan. Hingga kini, ia masih menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap motif di balik tindakannya.

    Yang mengejutkan, pelaku disebut masih memiliki hubungan keluarga dengan korban, menambah kompleksitas kasus ini. Pihak kepolisian belum menyampaikan motif resmi, namun dugaan sementara mengarah pada faktor pribadi yang masih didalami.

    Polisi Himbau Masyarakat Tetap Tenang

    Menyikapi kasus ini, pihak berwenang menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak terpancing emosi maupun melakukan aksi balasan. “Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan proses hukum kepada pihak kepolisian,” tegas Iptu Nuim.

    Polisi juga memastikan bahwa proses hukum akan berjalan secara transparan dan objektif, tanpa intervensi apa pun. Kasus ini pun mendapat perhatian luas dari masyarakat, mengingat korban adalah figur publik yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.

    Luka yang Menggores Komunitas

    Kematian Mohamad Fuad meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat Tanambulava dan Gumbasa yang mengenalnya sebagai sosok bersahaja. Tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kestabilan emosi dan menyelesaikan konflik secara damai. Itulah mengapa kita perlu menghibur diri untuk menghindari dunia kriminal. Bagaimana caranya?

    Pihak keluarga dan tokoh masyarakat berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali, serta mengimbau warga untuk ikut menjaga kondusivitas lingkungan.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai